Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam resmi dioperasikan. Launching ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh beberapa pejabat seperti Darmawel Umar Kasubdit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Perkotaan pada Kementerian PUPR, Kepala Dinas PU Kepri Heru dan Sekda Kota Tanjungpinang Riono di Gedung Operasional, SWRO Batu Hitam, Selasa (3/4).
Pada kesempatan itu, Kasubdit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Perkotaan pada Kementerian PUPR. Darmawel Umar selalu menyampaikan beberapa alasan pembangunan SWRO di Kota Tanjungpinang.
Diantaranya, kondisi geografis Pulau Bintan yang mengalami keterbatasan air baku dan faktor alamiah berupa perubahan kondisi iklim dan kualitas air baku yang semakin menurun seperti di Waduk Sei Pulai dan Sei Gesek. Kemudian Kota Tanjungpinang juga memiliki sumber air laut yang melimpah dan tidak terbatas sehingga dianggap sangat cocok untuk dibuat SWRO.
“Ini SWRO terbesar yang dibangun Kementerian PUPR,” katanya. Saat ini menurutnya, operasional sudah diserahkan ke Pemerintah Kota Tanjungpinang. Namun serah terima aset secara keseluruhan masih dalam peroses. Karena memang memerlukan waktu yang tidak sebentar.
SWRO ini sudah selesai dibangun sejak beberapa tahun lalu. Proyek Satker Kementrian PU ini menelan biaya pembanguan Rp97 miliar melalui dana APBN. Proyek ini didesain untuk bisa mengatasi kebutuhan 4000 pelanggan dengan kapasitas 50 liter per detik.
Pembangunan SWRO tersebut sudah melalui kajian Pemprov Kepri dan Pemko Tanjungpinang mengenai ketersediaan kebutuhan air bersih pada saat Kota Tanjungpinang dilanda krisis air bersih karena kemarau panjang.
Sumber-sumber air baku yang ada di Pulau Bintan tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan air bersih. Oleh karena itulah dilaksanakan pembangunan SWRO tersebut.
Sumber : http://batam.tribunnews.com
