Kekhawatiran akan terjadinya krisis air secara global di masa mendatang didasari oleh keterbatasan sumber daya air (tawar) yang tersedia di permukaan bumi, sementara kebutuhan manusia akan air terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk beserta peningkatan aktivitas (industri)nya. Di samping itu, krisis air bisa terjadi sebagai akibat perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global.
Ketersediaan air di bumi relatif tetap. Meskipun ada kehilangan air yang menguap ke ruang angkasa atau penambahan uap air dari sisa ekor komet, jumlah tersebut dapat diabaikan. Seperti telah diulas sebelumnya, sebagian besar air di bumi berada dalam bentuk air laut yang salinitasnya tinggi sehingga manfaatnya untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya amat terbatas. Air tawar di permukaan bumi hanya berjumlah kira-kira 1% saja, sebagian besar (0,9%) tersedia dalam bentuk air tanah yang tidak atau sangat sulit terbarukan (unrenewable). Jadi, hanya sebagian kecil saja (0,1 %) air yang mudah dipergunakan dalam bentuk aliran-aliran sungai atau genangan-genangan pada danau, kolam, dan rawa.
Kebutuhan air untuk setiap orang berbeda-beda dan ditentukan oleh tingkat sosial serta latar belakang budayanya. Untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia yang menyangkut air minum, memasak, dan mandi, cuci, serta kesehatan (MCK) di daerah pedesaan di Indonesia, konsumsi harian setiap orangnya (kapita/hari) diperkirakan sebanyak 50 liter. Sedangkan di daerah perkotaan kebutuhan ini meningkat menjadi 100 liter. Di negara yang lebih maju dengan tingkat penghasilan yang lebih tinggi, kebutuhan harian akan air ini rata-rata 200 liter per kapita, bahkan di Amerika serikat di mana air berlimpah dan penghasilan masyarakatnya termasuk salah satu yang tertinggi di dunia, konsumsi air harian per kapita mencapai 500 Iiter. Di samping untuk kebutuhan dasar, air diperlukan pula untuk memproduksi makanan, pakaian, dan bahan serta alat-alat penunjang kehidupan lainnya. Kandungan air dalam suatu produk biasa dihitung dan ditetapkan sebagai air maya (virtual water) atau jejak air (water footprint).
Untuk memproduksi roti diperlukan gandum yang tiap kilogramnya mengandung 1,35 m3 air maya. Untuk seseorang yang hidup hanya dari roti dengan nilai nutrisi sebesar 2000 kalori per hari berarti secara tidak langsung mengkonsumsi air sebanyak 270 m3 air per tahun. Pada kenyataannya orang memerlukan pula protein dan vitamin yang dalam menu sehari-hari diperoleh melalui daging, telur, ikan, atau sayuran. Setelah ditambah dengan kelengkapan gizi tersebut, kebutuhan rata-rata konsumsi air tahunan yang lebih realistik adalah sekitar 400 m3 per tahun atau sedikit lebih dari 1000 liter per kapita per hari. Untuk bertahan hidup, seseorang diperkirakan membutuhkan 500 sampai 1000 liter air maya dalam bentuk makanan. Pada tahun 1990, diperkirakan masih ada penduduk bumi yang hanya mengkonsumsi makanan dengan jumlah air maya kurang dari 1000 liter (Kandel, 2003), sedangkan para penduduk di negara-negara kaya, seperti Amerika dan negara-negara Eropa, umumnya mengkonsumsi lebih dari 2000 liter air maya.
Perlu dicatat bahwa meskipun pertanian merupakan sektor yang paling banyak mengkonsumsi air, tapi jumlah air maya yang diperlukan untuk mendapatkan satu satuan produk industri nonpertanian umumnya jauh lebih besar. Untuk memproduksi dan proses pencelupan kain, misalnya, memerlukan air kira-kira 1 m3 untuk setiap warna pada setiap meter kain yang dihasilkan. Proses tersebut memerlukan air yang berkualitas baik. Setelah proses pencelupan selesai, hampir seluruh air yang terpakai masih tetap utuh dan harus dialirkan kembali (dibuang) ke alam, tetapi dalam kualitas yang sedemikian buruk sehingga tak dapat dipakai lagi untuk apa pun. Proses-proses penambangan, pencetakan logam, penyamakan kulit, dan industri nonpertanian lainnya juga menghasilkan air Iimbah yang pekat yang ketika dibuang ke alam menyebabkan perairan di sekitarnya kehilangan manfaat.
Berdasarkan perkiraan tersebut, jumlah air per kapita untuk sekadar bertahan hidup sekitar 3500 m3 per tahun. Kebutuhan per kapita minimal absolut diperkirakan sebanyak 500 m3 per kapita per tahun, sedangkan untuk hidup cukup nyaman diperlukan sekitar 2000 m3 per tahun. Dengan peningkatan taraf hidup masyarakat, pemakaian air per kapita per orang juga akan terus meningkat sesuai pola hidup (makan, berpakaian, berkendaraan, dan lain-lain) yang disertai dengan peningkatan konsumsi barang-barang. Peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat secara langsung maupun tidak langsung juga meningkatkan jumlah pemakaian air per kapita per orang per tahun akan terus meningkat dari 500 m3 menjadi 1000 m3, 2000 m3, 5000 m3, sampai batas akhir yang belum diketahui.
Distribusi ketersediaan air tidak merata dengan perbedaan yang mencolok antara satu bagian dunia dengan lainnya dipengaruhi oleh faktor iklim, utamanya presipitasi (curah hujan atau salju). Dari total presipitasi yang jatuh ke atas tanah, dua per tiga di antaranya kembali lagi ke udara sebagai air evapotranspirasi, sedangkan sepertiga lainnya mengalir di atas permukaan tanah, menggenangi danau-danau, rawa, dan lahan pertanian serta mengimbuh ke dalam tanah dan akhirnya mengalir ke laut. Ketersediaan air di suatu daerah atau negara biasa diperhitungkan berdasarkan jumlah air yang bersirkulasi di daratan sampai ke laut atau dikenal sebagai run off yang jumlahnya diperkirakan sama dengan sepertiga dari jumlah presipitasi.
Ketersediaan air pada suatu negara sangat berbeda dari negara lainnya, terutama bila dikaitkan dengan iklim dan jumlah penduduk serta pola pemakaiannya. Sebagai contoh di Afrika, negara beriklim basah Gabon memiliki ketersediaan air setiap tahunnya melebihi 100.000 m3 bagi setiap penduduknya, sedangkan di Sahara hampir benar-benar kering, meski penduduknya memang sangat sedikit. Wilayah Amerika Serikat menyediakan hampir 10000 m3 air untuk rata-rata per orang per tahun, tetapi apabila dilihat lebih rinci penyebarannya sangat tidak merata. Di daerah sekitar gurun Arizona misalnya, ketersediaan air sangat rendah, sedangkan di Alaska sangat tinggi. Demikian pula di Indonesia yang meskipun secara umum tergolong daerah kepulauan dengan iklim tropis basah, tetapi ternyata memiliki keragaman yang besar sehingga ketersediaan air per kapita berlainan untuk setiap pulau.
Melihat ketersediaan dan pola pemakaian air maka tampak Pulau Jawa sudah memasuki tahap krisis air. Bersamaan dengan itu pola hidup penduduk Pulau Jawa amat beragam, dari yang sederhana di pedesaan hingga yang kompleks di kota-kota metropolitan. Seringnya terjadi kasus-kasus kesulitan air bersih dan bencana-bencana yang berkaitan dengan air memperkuat sinyalemen bahwa tahap krisis air di Pulau Jawa sedang dijalani.
Kekhawatiran akan terjadinya krisis air global di masa mendatang ditambah dengan fenomena perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global sangatlah beralasan. Perubahan iklim dapat menimbulkan dampak yang signifikan bagi sumber daya air karena terdapat hubungan yang erat antara iklim dan siklus hidrologi (Ludwig, et. aI., 2009). Pemanasan global akan meningkatkan jumlah penguapan dan pada tahap berikutnya akan mengakibatkan peningkatan presipitasi: hujan dan salju. Peningkatan penguapan dari hujan dan salju diperkirakan akan terjadi secara regional. Secara umum, perubahan ini akan berbeda di setiap tempat dan daerah iklim. Secara keseluruhan, pasokan air tawar global akan meningkat, tetapi baik kekeringan maupun banjir akan lebih sering pula terjadi di berbagai tempat dengan intensitas yang lebih besar. Di samping itu, meningkatnya jumlah luah aliran permukaan belum tentu disertai dengan peningkatan ketersediaan air bersih, karena erosi diperkirakan akan meningkat pula sehingga menyebabkan aliran menjadi keruh dan pendangkalan pada sungai, saluran air, dan danau serta waduk. Tingginya temperatur akan meningkatkan daya larut air dan menyebabkan eutrofikasi atau peningkatan kesuburan air sehingga menimbulkan ledakan pertumbuhan ganggang atau biota air lainnya.
PT. Tirtamakmur Wisesa Abadi (TWA) hadir untuk membantu kebutuhan air bersih di Indonesia, dengan proses Reverse Osmosis (RO), Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), atau desalinasi air laut yang akan mengubah air kotor, air laut, air payau, bau logam, berkerak, Asin menjadi air tawar dan air bersih. Silahkan hubungi nomor HP. 081337752620 atau nomor kantor pusat di Bali di Nomor 0361-4753988 untuk langsung berhubungan dan berdiskusi mengenai masalah air anda. Atau juga bisa melalui emai ke info@tiwa.co.id (tiwa.co.id)
