Salah satu dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS), Pranoto, berhasil melakukan inovasi dengan menciptakan penyaring air dari bahan logam berbahaya dan juga ecolli.
Pranoto mengatakan, alat penyaring air tersebut memanfaatkan bahan alam yang mudah didapat, efektif, dan murah untuk mengolah air tercemar menjadi layak minum. Penjernih air terbuat dari tanah lempung (alofan) tersebut yang diberi nama Prans Water Filter (PWF).
Dari air yang kotor, keruh, dan tercemar logam berat juga bakteri ecolli, dengan dilakukan penyaringan menggunakan bahan alami, hasil temuan Pranoto membuat air yang semula terkontaminasi dan tercemar bisa berubah menjadi air bersih juga layak untuk dikonsumsi.
“Absorben (penyaring alam) tersebut adalah tanah lempung (alofan),” terangnya , di Solo, Jawa Tengah, Jumat (5/12/2014).
Dibandingkan kualitas air isi ulang yang sekarang menjamur, justru lebih bagus menggunakan air yang disaring dengan menggunakan alofan.
“Kualitas air isi ulang itu bergantung dari mana bahan baku (air) berasal. Kalau bahan baku di sumber airnya bagus ya hasilnya relatif bagus,” ujar Pranoto.
Pemanfaatan bahan alami berupa tanah lempung itu diambil dari gunung yang sudah tidak aktif lagi. Tanah lempung vulkanik yang paling baik diambil dari gunung dengan ketinggian 1.000 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Misalkan, dari Gunung Galunggung, Slamet, Lawu, Sindoro, dan Wilis.
“Prosesnya cukup mudah, cukup siapkan tanah lempung vulkanik lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan, kemudian digerus sampai halus. Lalu, diayak dan hasilnya direndam dalam akuades. Kemudian disaring dan dikeringkan pada temperatur 105 derajat celcius selama empat jam hingga menjadi padat seperti genting,” ungkapnya.
Bahkan, alat buatannya sudah diuji coba di Sorong,Papua; dan Pandeglang, Banten, Jawa Barat. Jika di Papua, jenis air yang digunakan adalah air payau disaring menggunakan alat penjernih lempung bisa dimanfaatkan sebagai air bersih layak konsumsi.
“Di Papua jenis airnya payau, makanya perutnya buncit-buncit karena ferrum (Fe/besi)nya tinggi. Terus dia minum air hujan giginya ompong,” ucapnya.
Jadi, sampai saat ini di Papua alat tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencuci, memasak, dan untuk diminum. Mereka membuat sendiri dan mengganti lempungnya sendiri. Untuk alatnya terbuat dari bambu.
Hak paten (HAKI) penjernih air dari lempung karya Pranoto sudah turun. Namun, saat ini Pranoto sedang mengembangkan hasil penelitiannya untuk bisa membuat air yang langsung bisa langsung diminum untuk mahasiswa di UNS.
“Tapi nunggu dana dulu, karena dari fakultas tidak ada dananya,” pungkasnya.
Sumber : Okezone.com
