Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta melakukan uji coba tekanan jaringan dan kualitas air sea water reverse osmonis (SWRO) atau unit sistem desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar di Kepulauan Seribu.
Kepala Seksi Pembangunan dan Peningkatan Air Baku dan Air Bersih, Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta, Aditya Putra Brata menjelaskan tiga pulau yang di uji coba ini. Ketiga pulau tersebut adalah Pulau Kelapa Dua, Pulau Payung dan Pulau Pramuka.
“Uji coba ini dilakukan untuk melihat tekanan jaringan listrik pompa dan kualitas air yang ada di rumah warga,” ucap Aditya, Kamis (10/1), seperti yang dilansir dari beritajakarta.
Proses pengolahan air laut menjadi air tawar lebih dikenal dengan istilah desalinasi. Yaitu mengurangi kadar garam yang terkandung pada air laut sampai pada level tertentu sehingga air laut tersebut layak untuk dipergunakan seperti halnya air tawar.
Aditya melanjutkan, dari seribu rumah tangga sasaran (RTS) yang ada di Kepulauan Seribu, total rumah yang sudah terpasang sambungan instalasi air bersih sebanyak 954 rumah. Rinciannya yaitu Pulau Pramuka 274 rumah, Pulau Panggang 520 rumah, Pulau Kelapa Dua 111 rumah dan Pulau Payung 49 rumah.
Selanjutnya untuk Pulau Panggang belum dilakukan uji coba, sebab instalasinya belum 100% jadi, maka belum bisa dilakukan uji coba.
“Terkait instalasinya sudah ditargetkan akhir Januari ini rampung dan kita bisa segera melakukan uji coba,” tutur Aditya.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta mendorong SDA untuk memperbanyak pembangunan SWRO. Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta, Pandapotan Sinaga menjelaskan, keberadaan SWRO ini di Kepulauan Seribu belum merata. Menurut dia masih banyak warga yang membutuhkan air bersih.
“Kalau bisa di setiap pulau minimal ada tiga unit SWRO,” ucap Pandapotan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (10/1).
Pandapotan menjelaskan, pihaknya sudah menyetujui usulan anggaran untuk pembangunan SWRO yang diajukan DInas SDA DKI Jakarta dalam ABD 2019 sebesar Rp36 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk membangun SWRO di Pulau Kelapa Dua, Pulau Panggang, Pulau Payung dan Pulau Pramuka.
Desalinasi yang menggunakan sistem Reverse Osmosis (RO) lebih kompleks jika dibandingkan dengan sistem RO untuk memurnikan air tawar.
Prosesnya, air laut yang akan diolah diperlukan pengelolaan awal (pre treatment) sebelum diteruskan ke bagian RO. Hal itu dilakukan karena masih mengandung partikel padatan tersuspensi, mineral, plankton dan lainnya.
Setelah melalui tahap pre-treatment, air laut disalurkan ke membran RO dengan pompa yang bertekanan tinggi sekitar 55 dan 85 bar, tergantung dari suhu dan kadar garamnya. Air yang keluar dari membran RO ini berupa air tawar dan air yang berkadar garam tinggi (brine water).
Air tawar selanjutnya dialirkan ke tahapan post-treatment untuk diolah kembali agar sesuai dengan standar yang diinginkan.
Sedang brine water dibuang melalui energy recovery device. Aliran brine water ini masih memiliki tekanan yang tinggi dan dimanfaatkan oleh energy recovery device untuk membantu pompa bertekanan tinggi sehingga tidak terlalu besar memakan daya listrik.
Desalinasi dengan teknologi RO ini dianggap yang paling rendah konsumsi daya listriknya diantara sistem desalinasi lainnya.
